BALI EXPRESS, SINGARAJA–  Di tangan Luh Rusmiati, koran dan majalah bekas disulap menjadi karya yang bernilai ekonomis tinggi. Bahkan, hasil karya dari koran bekas ini tidak kalah saing dengan tas kerajinan pada umumnya. Lewat usaha ‘Gegaen Lima Craft’ wanita dari Desa Sudaji Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng ini sukses mendaur ulang koran bekas menjadi karya yang mengagumkan. Tas dari limbah koran bekas ini memiliki peminat tersendiri khususnya mereka yang benar – benar menyukai fashion unik.

Rusmiati mengatakan, tas dari koran bekas ini justru unggul dengan ciri khasnya yang ramah lingkungan. Tentu memiliki daya tahan yang kuat dan tahan air. Karena produk yang diciptakan ini khusus untuk fashion dengan teknik pembuatan yang benar – benar telaten.

Dikatakan Rusmiati, kualitas produk tas dari koran bekas ini berani bersaing di pasaran. Sejauh ini, ungkapnya,  pemasaran aneka produk dari koran bekas seperti tas ini sudah mampu merambah pasar di seluruh Bali. Ia mendesain koran tersebut dengan mengayam sehingga menghasilkan bentuk yang tidak monoton.

“Harga kami tentukan sesuai dengan motif dan ukuran, tentunya kami memprioritaskan kualitas dan nilai seni itu sendiri,” kata Rusmiati belum lama ini.

Untuk harga jual, tas buatannya ini cukup terjangkau mulai Rp 75 ribu per buah. Semua tergantung desain dan ukuran. Tidak jarang permintaan datang dari kalangan elit karena cenderung menginginkan produk yang limitied ada juga yang dipesan sebagai cindramata.

Tak hanya memproduksi tas, lewat koran bekas, Rusmiati sukses menghasilkan sejumlah kerajinan seperti dulang, bokor, gantungan kunci, tempat buah dengan model kekinian.

koras bekas jadi produk bernilai

Bahkan ia mengklaim tidak ada kendala dalam proses pembuatan kerajinan ini karena dari segi bahan baku cukup mudah didapat dengan harga jual yang relatif murah. Ia pun berharap kerajinan ini juga menjadi salah satu upaya mengangkat nilai jual dari koran bekas itu sendiri.

“Sesekali kami terkendala cuaca, karena kerajinan dari koran ini membutuhkan cuaca yang cukup cerah agar kering sempurna sebelum di cat,” jelasnya.

Lalu bagaimana pemasarannya? Rusmiati menyebut,  pemasaran yang ia lakukan cenderung via online. Sebab selain jangkauannya lebih luas, dirinya juga tidak perlu mengeluarkan modal yang lebih untuk membuka sebuah toko atau showroom.

Terlebih produknya juga seringkali dilibatkan dalam ajang pameran industri kerajinan dan UMKM.  “Apalagi Desa Sudaji merupakan Desa Wisata, tentunya ini bisa menjadi suvenir bagi wisatawan yang berkunjung ke Sudaji,” tuturnya.

Sumber: BALI EXPRESS